Ta’wiil Terhadap Ayaatul Kursy

This is a discussion on Ta’wiil Terhadap Ayaatul Kursy within the Tafsir and Sciences of the Qur'an forums, part of the Islamic Library category; Bismillaahi aktubu, Al Qur’aanul ‘azhiim QS.Al Baqarah (2):255 255. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Maha Hidup (Maha Mendengar, Maha Melihat, ...


As-Salamu 'Alaykum (Peace be upon you)! Welcome to the Islamic-Life Forums

Islamic-Life Forums is a Muslim community dedicated to Islamic discussions, Islamic Dawah, Islamic articles, Islamic responses/refutations to Islamic misconceptions and Islamic-Life Forums presents correct understanding of Islamic way of life to both Muslims and Non-Muslims. You can also download free Islamic books, Islamic video and audio lectures, Islamic nasheeds. To gain full access to Islamic-Life Forums you must register for a free account. As a register member you will be able to:
  • Participate in discussions, start new topics and vote in polls
  • communicate privately with other members (PM)
  • upload books, nasheeds, pictures, videos etc. and help Islamic-Life staff with their Islamic projects
All this and much more is available to you absolutely for free when you register for an account, so join our community today! If you are unfamiliar with forums' features or a new visitor then find answers to your questions in our FAQ. If you have any problems with the registration process or your account login, please contact us.

Islamic-Life Arcade Downloads Glorious Qur'an
Host Image
Go Back   Islamic-Life Forums  > Islamic Library  > Tafsir and Sciences of the Qur'an
Register Forum Rules FAQ Calendar Search Today's Posts Mark Forums Read



Tags
ayaatul kursy

Reply
 
LinkBack Thread Tools
Old 10-23-2009, 11:40 PM   #1
Junior Member
 
Join Date: Oct 2009
Posts: 3
Gender: Male
Way of life: Muslim
Thanks: 0
Thanked 2 Times in 2 Posts
Default Ta’wiil Terhadap Ayaatul Kursy

Bismillaahi aktubu,

Al Qur’aanul ‘azhiim QS.Al Baqarah (2):255

255. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Maha Hidup (Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Mengetahui, Maha Mengerti, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Mencipta) lagi Maha Kekal yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar (Yang tak terjangkau indera dan pengetahuan Mahkluq-Nya yakni dari Dzat-Nya dan sifat-sifatnya serta ketetapan-Nya yang luas dan teperinci serta yang Maha Memiliki sifat-sifat yang besar yang yang tak tertandingi keagungannya dan kesantunannya).

Allaahu Subhaanahu Maha Hidup dengan kekekalan yang sempurna serta Maha Mandiri terlepas dari kebutuhan terhadap alam semesta ataupun dari Makhluq-Nya, dengan nama-Nya tsb beliau mengurus Makhluq-Makhluq-Nya.

Allaahu Jalla Jalaaluhu tidak pernah lengah dari keadaan hamba-hamba-Nya dan tidak akan lengah dari penghisaban terhadap hamba-hamba-Nya di hari-hari-Nya (kehidupan aakhirat). Beliau Maha terlepas dari keraguan lagi kelupaan dan kesalahan lagi penyesalan.

Beliau bersifat dengan sifat-sifat-Nya yang Ia Maha Terpuji atas hal tsb untuk selama-lamanya. Jadi, Beliau senantiasa memiliki sifat hati-hati dan meliputi keadaan hamba-hamba-Nya.

Tiada akan ditemukan Sang Maha Mencipta di seluruh yang hadir ataupun tidak hadir, yang hidup atau mati, yang laki-laki atau perempuan dari selain diri-Nya, hanya diri-Nyalah yang Maha Membuka semua penghalang dan Maha Menunjuki hamba-hamba-Nya kepada Syari’at dan Minhaj-Nya yang lurus.

Barangsiapa yang ingin menembus langit atau menghendaki kepada sesuatu yang bersifat ghaib atau menghendaki kepada sesuatu yang bersifat nyata, yang hanya Allaahu Tabaaraka wa Ta’ala yang Maha Mengetahuinya, maka tiada Syafa’at bagi mereka untuk mengetahui sesuatupun dari ‘ilmu Allaahu ‘Azza wa Jalla kecuali berdasarkan izin-Nya.

Allaahu Jalla Syana’uhu Maha Menguatkan hamba-hamba-Nya dan Maha Menolong tiap-tiap dari mereka, semuanya tanpa kecuali. Adapun Allaahu Ta’ala Maha Mengetahui lagi Maha Menguasai, tiadalah kami berani dari menjalankan sesuatu ketetapan yang hakikat-Nya tidak pernah Beliau perintahkan dan tiada berasal dari-Nya, serta tidaklah seorang Mukmin melaksanakan sesuatu yang berasal dari-Nya kecuali: yang akan dikembalikan kepada-Nya. Yakni dari kebaikan.

Allaahu Subhaanahu wa Ta’ala lebih mengetahui keterbatasan setiap Makhluq-Nya. Dan Beliau Maha Kaya dari memiliki hajat terhadap setiap yang berasal dari-Nya. Dan Beliau Maha Terpuji lagi Maha Mulia lagi Maha Menyantuni, ialah hak-Nya untuk menunjuki hamba-hamba-Nya kepada tanda-tanda dari kekuasaan-Nya, wasilah bagi keselamatan hamba-hamba-Nya dan sebab-sebab dari rizqi-Nya.

Setiap sesuatu yang terjadi di alam semesta ini, baik besar maupun kecil parsial maupun teperinci, yang demikian itu berada di dalam liputan ilmu-Nya yang azali (Qadiim) dan kehendak-Nya mendahului segala daya dan upaya dari Makhluq selain-Nya.

Penyembahan kepada Allaahu Ta’ala senantiasa tegak dan terang benderang sejelas-jelasnya serta dengan ke Maha Rajaan-Nya di langit dan di bumi. Segala ke Maha Agungan-Nya, ke Maha Tinggian-Nya dan ke Maha Besaran-Nya di atas kursy-Nya meliputi langit dan bumi. Tiada akan lolos setiap Makhluq-Nya dari ketetapan takdir-Nya untuk mereka agar supaya mereka menjalankan penyembahan kepada-Nya dengan ikhlas dan mengikuti Abul Qaasim Shalallaahu ‘alaihi wa aali wa Sallam dan dengan berserah diri hanya kepada-Nya pula, dengan bermunajat dan bertaqarrub kepada-Nya dan sepenuhnya bertawakkal hanya kepada-Nya.

Beliau Maha Memiliki Keperkasaan dan tiada akan mati, sedangkan manusia akan mati dan hendaklah mereka memohon kepada Al Hayyul Qayyum hati yang khusyu’ lagi do’a yang didengar dan jiwa yang kenyang lagi ‘ilmu yang bermanfaat.

Hendaklah mereka bermunajat kepada Dzal Jalaali wal Ikraam (Yang Maha Memiliki kesucian, keperkasaan, kebesaran, keagungan dan kemuliaan lagi Maha Menolong, Maha Memaafkan lagi Maha Memberi kepada hamba-hamba-Nya yang beriman). Maka hendaklah mereka senantiasa bercermin kepada kematian dan kepada kehidupan Mukminiin. Anggaplah ini hari terakhir mereka beribadah dengan mengingat cermin-cermin tsb serta berhati-hati dari sesuatu yang melupakan kematian di dunia.

Kepada Allaahu Subhaanahu wa Ta’ala kita tinggikan segala ucapan dan amal shalih yang menghantar kepada Surga-Nya yang terutama dengan meninggikan kalimat-Nya.

Dan tiadalah Beliau malas maupun enggan dari menjaga dan memelihara 7 lapis langit dan 7 lapis bumi.
Sesungguhnya Allaahu Ta’ala Maha Tinggi (Yang tak terjangkau oleh indera dan pengetahuan Mahkluq-Makhluq-Nya yakni dari Dzat-Nya dan sifat-sifat-Nya serta ketetapan-Nya yang luas dan teperinci) lagi Maha Agung (Maha Memiliki sifat-sifat yang besar yang yang tak tertandingi keagungannya dan kesantunannya).

Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh (Semoga kesempurnaan lahir dan batin dan As Salaam, dan rahmat dari Allaahu dan keberkahan dari-Nya senantiasa dilimpahkan kepada kalian).

Assalaamu manit taba’al huda (Semoga kesempurnaan lahir dan batin dan As Salaam bagi pihak yang mengikuti petunjuk dari-Nya).
Abdul Hayiyyun is offline   Reply With Quote
Old 11-27-2009, 12:26 AM   #2
Full Member
 
Join Date: Nov 2009
Posts: 94
Gender: Male
Way of life: Muslim
Thanks: 4
Thanked 11 Times in 10 Posts
Default Re: Ta’wiil Terhadap Ayaatul Kursy



Akhee Abdul Hayiyyun,
I see you translated Ayaatul Kursy according to Indonesian official translation. I guess you are Indonesian.

Your article is good by I must comment about two points.

First. You cannot call Allah Subhana wa Ta'aala as 'Beliau', because in Indonesian language 'Beliau' is used only for call honored human person.

Second. I don't know about in other countries, but in Indonesia is uncommon to call Rasulallah Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Sallam as Abul Qaasim Shalallahu 'alahi wa aali wa sallam.
ardianto is offline   Reply With Quote
Old 12-01-2009, 11:04 PM   #3
Junior Member
 
Join Date: Dec 2009
Posts: 3
Gender: Male
Way of life: Muslim
Thanks: 0
Thanked 0 Times in 0 Posts
Default Re: Ta’wiil Terhadap Ayaatul Kursy

Quote:
Originally Posted by ardianto View Post


Akhee Abdul Hayiyyun,
I see you translated Ayaatul Kursy according to Indonesian official translation. I guess you are Indonesian.

Your article is good by I must comment about two points.

First. You cannot call Allah Subhana wa Ta'aala as 'Beliau', because in Indonesian language 'Beliau' is used only for call honored human person.

Second. I don't know about in other countries, but in Indonesia is uncommon to call Rasulallah Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Sallam as Abul Qaasim Shalallahu 'alahi wa aali wa sallam.


I am agree with you ardianto,
I am from Indonesia.
Indonesian Muslim people never called Allah Subhana wa Ta'aala as 'Beliau',
& i don't know who is Abul Qaasim.
Anugrah is offline   Reply With Quote
Old 12-02-2009, 11:10 AM   #4
Proud Islamist
 
salman's Avatar
 
Join Date: Jun 2007
Location: Islamic-Life.com
Posts: 2,168
Gender: Male
Way of life: Muslim
Thanks: 73
Thanked 295 Times in 213 Posts
Default Re: Ta’wiil Terhadap Ayaatul Kursy



brother anugrah, Abul Qaasim is kuniyya/laqb (nickname) of Prophet Muhammad (sal-allahu alayhi wa sallam). and Allah knows best
__________________
Fi Amanillah
Wa As-Salamu 'Alaykum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuhu

The Prophet sal-allahu 'alayhi wa salam said: "The Muslim is a unique Ummah among the whole of mankind: Their Land is ONE, their War is ONE, their Peace is ONE, Their Honour is ONE and their Trust is ONE." [Relayed by Imam of Ahlus Sunnah - Ahmad ibn Hanbal - rahimahullah]
salman is offline   Reply With Quote
Old 12-02-2009, 09:53 PM   #5
Junior Member
 
Join Date: Dec 2009
Posts: 3
Gender: Male
Way of life: Muslim
Thanks: 0
Thanked 0 Times in 0 Posts
Default Re: Ta’wiil Terhadap Ayaatul Kursy

Quote:
Originally Posted by ardianto View Post


Akhee Abdul Hayiyyun,
I see you translated Ayaatul Kursy according to Indonesian official translation. I guess you are Indonesian.

Your article is good by I must comment about two points.

First. You cannot call Allah Subhana wa Ta'aala as 'Beliau', because in Indonesian language 'Beliau' is used only for call honored human person.

Second. I don't know about in other countries, but in Indonesia is uncommon to call Rasulallah Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Sallam as Abul Qaasim Shalallahu 'alahi wa aali wa sallam.
Quote:
Originally Posted by salman View Post


brother anugrah, Abul Qaasim is kuniyya/laqb (nickname) of Prophet Muhammad (sal-allahu alayhi wa sallam). and Allah knows best
Thanks For your clarification brother salman.

Sory for my lack of knowledge.
Anugrah is offline   Reply With Quote
Reply

Bookmarks

« Surah Tariq Tafsir - Dream Notes - Nouman Ali Khan | What was Medina Fever ? »

Currently Active Users Viewing This Thread: 1 (0 members and 1 guests)
 
Thread Tools



All times are GMT -4. The time now is 01:11 PM.


Powered by vBulletin® Version 3.8.5
Copyright ©2000 - 2012, Jelsoft Enterprises Ltd.
SEO by vBSEO 3.5.1 PL1
Template-Modifications by TMS